Kisah Nabi Sulaiman lengkap dalam Al-Quran menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran Allah SWT
kepada seluruh umatnya di zaman dulu dan akan menjadi bahan renungan
untuk umat setelahnya. Setelah beliau cukup umur dan ayahandanya
meninggal dunia, Sulaiman diangkat menjadi raja di kerajaan Israil.
Beliau berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas hewan dan
makhluk halus seperti jin. Baginda bisa memahami bahasa semua binatang,
misalnya seperti burung hudhud, semut, kucing, ikan di lautan, macan dan
banyak lagi.
Nabi Sulaiman adalah putra Daud bin Isya bin Uwaid
keturunan Yahudza bin Ya’kub dilahirkan pada sekitar tahun 975 – 935 SM.
Beliau merupakan manusia yang memiliki sifat kebijaksanaan sangat
tinggi. Bahkan, kerena sifat bijaksananya tersebut Nabi Sulaiman
mendapatkan gelar Al-Hakim. Allah SWT telah memilih dari kelompok
manusia untuk dijadikan wakilnya di bumi, demikian pula dengan Nabi yang
bisa beristrikan Ratu Balqis tersebut memiliki kisah memukau.
Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan gotong royong
manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang
dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan
ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi
mutiara, dan sebagainya.Nabi Sulaiman dianugerahkan Allah kebijaksanaan
sejak remaja. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu
berbicara dan memahami bahasa hewan sehingga semua makhluk itu mengikuti
kehendaknya.
Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran salah satunya dijelaskan pada ayat, “…dan
sesungguhnya Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan
keduanya mengucapkan; segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dan
banyak hambanya yang beriman, dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia
berkata; Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara
burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua ini
benar-benar satu anugerah yang nyata.” (An-Naml: 15-16)
Beliau
juga dapat menundukkan jin dan angin, sehingga dapat disuruh melakukan
apa saja, termasuk mendapatkan tembaga cair yang selalu keluar dari
perut bumi untuk dijadikan perkakasan, bangunan istana, benteng,
piring-piring besar dan tungku-tungku. Sesuai dengan firman Allah
Ta’ala, “…dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya
pada waktu petang, sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan
cairan tembaga baginya, dan sebahagian daripada jin ada yang bekerja di
hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya, dan siapa yang
menyimpang antara mereka daripada perintah Kami, Kami rasakan kepadanya
azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (Al-Anbiya: 81)
Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Setelah
membangunkan Baitul Muqaddis, Nabi Sulaiman menuju ke Yaman. Tiba di
sana, disuruhnya burung hud-hud (sejenis pelatuk) mencari sumber air.
Tetapi burung berkenaan tiada ketika dipanggil. Ketiadaan burung hud-hud
menimbulkan kemarahan Sulaiman. Selepas itu burung hud-hud datang
kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “Aku telah terbang untuk mengintip dan
terjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan…”
Firman
Allah, bermaksud: “Maka tidak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu ia
berkata; aku telah mengetahui sesuatu, yang kamu belum mengetahuinya dan
aku bawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
“Sesungguhnya
aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi
segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia
dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah…”
Mendengar berita
itu, Nabi Sulaiman mengutuskan surat mengandungi nasihat supaya
menyembah Allah kepada Ratu Balqis. Surat itu dibawa burung hud-hud dan
diterima sendiri Ratu Balqis. Selepas dibaca surat itu, Ratu Balqis
menghantarkan utusan bersama hadiah kepada Sulaiman. Dalam al-Quran
diceritakan: “Tatkala utusan itu sampai kepada Nabi Sulaiman, seraya
berkata; apakah patut kamu menolong aku dengan harta?
“Sesungguhnya
apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang
diberikannya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
“Kembalilah
kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara
yang mereka tidak mampu melawannya dan pasti kami akan mengusir mereka
dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi tawanan yang
tidak berharga.”
Utusan itu kembali ke negeri Saba dan
menceritakan pengalaman yang dialami di Yaman kepada Ratu Balqis,
sehingga dia berhajat untuk berjumpa sendiri dengan Sulaiman. Keinginan
Ratu Balqis untuk datang itu diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Dia
segera memerintahkan seluruh tentaranya yang terdiri dari manusia, hewan
dan jin untuk membuat persiapan bagi menyambut kedatangan Ratu Balqis.
Nabi Sulaiman kemudian menitahkan untuk memindahkan singasana Ratu
Balqis ke istana dia. Kisah ini tercantum dalam Surah An-Naml, berikut
ini:
38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di
antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum
mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
39.
Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang
kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri
dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya
lagi dapat dipercaya.”
40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu
dari AI-Kitab “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu
berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di
hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba
aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya), dan
barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
(kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka
sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
41. Dia berkata:
“Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia
mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”
Manakala
Ratu Balqis tiba, ia ditanya oleh Sulaiman: “Seperti inikah
singgasanamu?” Dengan terperanjat, Ratu Balqis menjawab: “Seakan-akan
singgasana ini singgasanaku” Kemudian Ratu Balqis dipersilakan masuk ke
istana Nabi Sulaiman. Namun, ketika berjalan di istana itu, sekali lagi
Ratu Balqis terpedaya, karena menyangka lantai istana Sulaiman terbuat
dari air, sehingga ia menyingkap kainnya.
Firman Allah yang
bermaksud: Dikatakan kepadanya; masuklah ke dalam istana. Maka tatkala
dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana itu, dikiranya air yang besar
dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman; “sesungguhnya
ia istana licin yang diperbuat daripada kaca”. Berkatalah Balqis; “Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku
berserah diri bersama Sulaiman dan kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Peristiwa
itu menyebabkan Ratu Balqis berasa sangat aib dan menyadari
kelemahannya, sehingga dia memohon ampun atas kesilapannya selama ini
dan akhirnya dia diperisterikan oleh Nabi Sulaiman.
Kebijaksanaan Nabi Sulaiman
Kisah
kebijaksanaan Nabi Sulaiman dapat dilihat melalui berbagai peristiwa
yang dilaluinya. Misalnya, dia coba mengetengahkan ide kepada bapaknya,
Nabi Daud a.s bagi menyelesaikan perselisihan antara dua pihak, yaitu
antara pemilik kebun dan pemilik kambing.
Pada awalnya Nabi Daud
memutuskan pemilik kambing supaya menyerahkan ternaknya kepada pemilik
kebun sebagai ganti rugi disebabkan ternaknya memasuki dan merusakkan
kebun itu. Sulaiman yang mendengar keputusan bapaknya menyelanya: “Wahai
bapakku, menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya berbunyi; kepada
pemilik tanaman yang telah musnah tanaman diserahkanlah kambingnya
untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya.
“Manakala tanamannya yang binasa itu diserahkan kepada pemilik kambing
untuk dijaga sehingga kembali kepada keadaan asal. Kemudian
masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian
masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita
kerugian lebih daripada sepatutnya.” Pendapat yang dikemukakan Sulaiman
disetujui kedua pihak. Malah khalayak ramai yang menyaksikan perbicaraan
itu kagum dengan kebolehan dia menyelesaikan perselisihan tersebut.
Kisah
Nabi Sulaiman juga membahas tentang kecerdasan akal beliau, Nabi Daud
menaruh kepercayaan dengan mempersiapkannya sebagai pengganti dalam
kerajaan Bani Israel. Namun, abangnya Absyalum tidak merelakan dia
melangkah lebih jauh dalam hiraki pemerintahan itu, malah mendakwa dia
yang sepatutnya dilantik sebagai putera mahkota kerana Sulaiman masih
muda dan tidak berpengalaman. Absyalum mau mendapatkan takhta itu dari
bapak dan adiknya. Justru, dia mulai menunjukkan sikap baik terhadap
rakyat, dengan segala masalah mereka ditangani sendiri dengan segera,
membuatkan pengaruhnya semakin meluas.
Sampai satu ketika,
Absyalum mengistiharkan dirinya sebagai raja, sekaligus merampas
kekuasaan bapaknya sendiri. Tindakannya itu mengakibatkan huru-hara di
kalangan Bani Israel. Melihatkan keadaan itu, Nabi Daud keluar dari
Baitul Maqdis, menyeberangi Sungai Jordan menuju ke Bukit Zaitun.
Tindakannya itu semata-mata mau mengelakkan pertumpahan darah, namun
Absyalum dengan angkuh memasuki istana bapanya. Di Bukit Zaitun, Nabi
Daud memohon petunjuk Allah supaya menyelamatkan kerajaan Bailtul Maqdis
daripada dimusnahkan anaknya yang durhaka itu. Allah segera memberi
petunjuk kepada Nabi Daud, yaitu memerangi Absyalum. Namun, sebelum
memulai peperangan itu, Nabi Daud berpesan kepada tentaranya supaya
tidak membunuh anaknya itu, malah jika boleh ditangkap hidup-hidup.
Bagaimanapun, kuasa Allah melebihi segalanya dan ditakdirkan Absyalum
mati juga karena dia mau bertarung dengan tentara bapaknya.
Kisah
Nabi Sulaiman berhubungan erat dengan Nabi Daud yang kembali ke Baitul
Maqdis dan menghabiskan sisa hidupnya selama 40 tahun di istana itu
sebelum melepaskan takhta kepada Sulaiman. Kewafatan Nabi Daud
memberikan kuasa penuh kepada Nabi Sulaiman untuk memimpin Bani Israel
berpandukan kebijaksanaan yang dianugerah Allah.
Nabi Sulaiman Wafat
Kisah
Sulaiman dan tentaranya yang terdiri daripada manusia, hewan dan jin
dalam menjalankan dakwah Allah terhadap Ratu Balqis. Kematian dia
berlainan dengan manusia biasa. Nabi Sulaiman wafat dalam keadaan duduk
di kursi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin
yang bekerja. Firman Allah: “Tatkala Kami telah menetapkan kematian
Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka setelah kematiannya
itu melainkan rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah
tersungkur, nyatalah bagi jin itu bahawa sekiranya mereka mengetahui
yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang
menghinakan.”
Demikianlah postingan tentang kisah Nabi Sulaiman lengkap dalam Al-Quran
Posting Komentar
0Komentar
3/related/default
.png)

Berkomentarlah dengan kata kata yang sopan